Skip to content

hujan

hujan

mengantar turun rasa

menjemput naik asa

-meguro,  090508

Daeng Basse

di pusaramu
kuletakkan seikat tanda tanya
terbungkus koran hari selasa
bergambar mahasiswa di kotamu
sedang asik perang batu

Bekasi, 02 Maret 2008

*Untuk Daeng Basse (almh) dan Bahri (alm) serta segerombolan anak muda yang katanya generasi penerus, harapan bangsa, pembela rakyat kecil…..

Penantian

Kegelisahan itu ada
Kala yang terkasih
Jauh di pelupuk mata
Dimanakah dia
Bagaimanakah keadaannya
Kapankah ia akan tiba
Agar senyum itu
Kembali menjelma
Menjadi untaian tawa

 
icon for podpress  Standard Podcast [2:40m]: Play Now | Play in Popup | Download

Oase

Masih menetes air bening segar dari jiwa yang terbasuh saat mampir di tengah oase kecil padang pasir kehidupan.

Masih menyeringai matahari ketika kaki kembali melangkah keluar menuju teriknya.

Masih menggoda liak liuk fatamorgana di iringi nyanyian sumbang burung-burung pemakan bangkai.

Masih juga menetes air bening segar, meski hangat udara bersiap menguapkannya.

Tuhan, kupinjam payungmu sampai oase berikutnya..

***

Singapura, di atas sajadah pada suatu malam yang terik.

Mungkin

: buat MSO

Mungkin kita ditakdirkan berbeda

Dibalik deraan yang tak kunjung sirna
Bisa jadi ia adalah wujud bahagia

Mungkin itulah pesan yang disampaikanNya

Agar kapanpun kita tidak pernah lupa
Bahwa setiap sisi hidup adalah bahagia

Daun Kehidupan

daun1.jpg
Sehelai daun kehidupan
Menyimpan saripati kenangan
Terselip diantara lembaran buku waktu
Suatu hari ia akan bicara tentang masa-masa itu

Seusai Gemuruh

Saat gemuruh itu reda
Yang terdengar hanya hening
Tak ada lagi isak apalagi sesak
Sendiri di depan beranda kesadaran
Memunguti keping-keping hati
Merekatkannya satu demi satu demi satu
Dan menyimpannya baik-baik
jauh di lubuk terdalam sana
Sambil kembali berharap
Semoga ia kembali terjamah
Oleh tangan kerinduan jauh di sana
Karena tak ada yang pernah bisa mengambilnya
Kecuali ia sang belahan jiwa

Di Persimpangan *

: Sebuah jawaban untuk Frost

Hidup adalah perjalanan dari satu persimpangan ke persimpangan lain.

Tidak ada salahnya memilih jalan yang sama dengan kebanyakan orang, seperti halnya tidak ada yang salah dengan memilih jalan sepi yang jarang atau tidak pernah dilalui orang.

Hidup adalah perjalanan dari satu persimpangan ke persimpangan lain.

Ini bukan soal jalan mana yang harus kita pilih, tapi lebih pada bagaimana kita menyikapi setiap persimpangan yang kita temui.

Hidup adalah perjalanan dari satu persimpangan ke persimpangan lain.

Jangan pernah takut menghadapi persimpangan hidup. Jangan takut memilih jalan mana yang akan kau ambil. Jangan pula pernah takut untuk menemui persimpangan lain di hadapan.

Hidup adalah perjalanan dari satu persimpangan ke persimpangan lain.

Tidak ada jalan lurus mulus tak berdebu, kecuali saat persimpangan itu telah habis. Saat ketika hidup harus berakhir.

Hidup adalah perjalanan dari satu persimpangan ke persimpangan lain.

Dan suatu waktu suatu masa, dengan senyum mengembang aku akan mengenang setiap persimpangan demi persimpangan demi persimpangan yang telah kulalui.

Karena hidup hanyalah perjalanan dari satu persimpangan ke persimpangan lain.

Di Penghujung Hari

Di penghujung hari, segalanya kembali termuntahkan keluar bersama dengan helaan nafas panjang. Malas ia membersihkannya kembali. Toh besok semua akan kembali terhirup seiring dengan tarikan nafas yang lebih panjang, sembari menahan muntah selama sehari penuh.

Di penghujung hari ia hanya ingin pulang. Pulang ke buah hatinya, memeluk belahan jiwanya..

Bukit Caldecott,
Suatu penghujung hari yang sangat biasa..

* Put, ayah pulang ..

Puang

Puang,

Rasa cemburu membelah kepala
Melihat kalian berdua asik bercengkerama
seolah sahabat lama saja

Sampai kusadari
Bukan otak, melainkan hati
Yang bisa menggapai..

.. kepada Mu O Puang

Clementi, 10 September 2006
makan itu otakmu, donggo!